Pelecehan Seksual Bikin Pramuka di AS Bangkrut
Pelecehan Seksual Bikin Pramuka di AS Bangkrut
Pelecehan Seksual Bikin Pramuka di AS Bangkrut
Organisasi pramuka putra di Amerika Serikat atau Boy Scouts of America (BSA) mengajukan kebangkrutan. Penyebabnya adalah besarnya biaya akibat banyaknya kasus kekerasan seksual yang berjalan di didalam Boy Scouts.
Dilansir CNBC, Selasa (18/2/2020), Boy Scouts menghadapi biaya hukum yang semakin menumpuk sebab harus membela diri terhadap tuntutan hukum atas dugaan kekerasan seksual terhadap anak-anak laki-laki.
Juru bicara Boy Scouts turut bicara pengajuan bangkrut itu untuk menolong tukar rugi terhadap para korban.
"Ada dua tujuan: memberi kompensasi adil terhadap korban-korban yang dirugikan selama mereka menjadi anggota di Pramuka dan melanjutkan misi-misi pramuka untuk tahun-tahun ke depannya," ujar jubir BSA.
Pengajuan kebangkrutan ini termasuk didalam rangka mendirikan Victims Compensation Trust untuk beri tambahan tukar rugi kepada korban Agodapoker Poker Legenda
Presiden dan CEO BSA, Roger Mosby, bicara pihaknya mulai marah atas orang-orang yang terlibat terhadap pelecehan seksual. Korban dari pelecehan yang berjalan adalah para anak-anak.
"BSA acuhkan dengan didalam tentang seluruh korban kekerasan dan dengan tulus menghendaki maaf kepada siapa saja yang tersakiti dikala menjadi anggota Pramuka," ujar Mosby seraya menegaskan proses tukar rugi bakal terus berlanjut.
Menurut laporan NPR tahun lalu, ada hingga 12 ribu korban pelecehan seksual akibat BSA. Para korban dianiaya oleh 8.000 pemimpin pramuka dan tindakan ini telah berjalan sejak tahun 1940-an.
Pro dan Kontra
Firma hukum Pfau, Cochran, Veretis, and Amala menyebut ada pro dan kontra dari pengajuan bangkrut ini. BSA dinilai mengusahakan menyelamatkan reputasinya saja supaya kasus ini tak berlarut-larut di pengadilan.
Pengacara dari firma tersebut, Michael Pfau, bicara kantornya mewakili nyaris 300 korban di lebih dari 30 negara bagian. Ia bicara proses hukum menjadi lebih singkat berkat pengajuan bangkrut ini. "Pro-nya adalah prosesnya menjadi lebih singkat ketimbang harus ke pengadilan dan banding di pengadilan negara bagian," ujar Pfau.
"Tetapi kontranya signifikan," lanjutnya. "Tiap individu kehilangan peluangnya untuk pengadilan dengan juri di pengadilan negara bagian," kata Pfau.
Ia menyebutkan BSA coba menghindari pengadilan dengan juri sebab tak dambakan dipandang banyak laksanakan kekerasan seksual secara sistematis.
"Para juri tidak suka pola fakta dikala anak-anak dianiaya oleh pemimpin yang terpercaya," kata Pfau. "Organisasi layaknya Boy Scouts harus pertimbangkan exposure mereka," ujarnya.





No comments
Note: Only a member of this blog may post a comment.